rpgbids – Kalau ada satu tim yang beberapa tahun terakhir membuat penonton MPL Indonesia terbiasa melihat kemenangan, jawabannya sulit untuk tidak menyebut ONIC.

Kairi masuk Land of Dawn, SANZ mengendalikan mid lane, Kiboy membuka war, lalu lawan perlahan kehilangan map. Polanya terasa familiar.

Bahkan ketika ONIC sedang tertinggal, selalu ada perasaan bahwa mereka masih bisa membalikkan keadaan.

Itulah aura tim besar.

Masalahnya, MPL ID Season 18 memberikan cerita yang sangat berbeda.

Sampai 19 September 2026, klasemen resmi MPL Indonesia menempatkan ONIC di peringkat keenam dengan catatan 3 kemenangan dan 7 kekalahan. Mereka sudah memainkan 24 game dengan catatan 10 kemenangan dan 14 kekalahan. Di atasnya ada EVOS dengan rekor 4-5, sementara Dewa United berada tepat di bawah ONIC dengan 3-6.

Untuk tim biasa, mungkin angka tersebut tidak terlalu mengejutkan.

Untuk ONIC?

Ini alarm.

Terlebih ketika melihat siapa saja yang berada di roster.

Situs resmi MPL mencatat ONIC membawa Kairi sebagai jungler, SANZ di mid lane, Kiboy sebagai roamer, Lutpi di EXP lane, Kelra di gold lane, serta SSAMUEL dan Killuaa sebagai opsi tambahan. CW kini berada di posisi coach.

Nama-namanya tidak terdengar seperti roster papan bawah.

Tetapi klasemen tidak peduli seberapa mengerikan nama yang tertulis di atas kertas.

Dan yang lebih menyakitkan, kekalahan terbaru ONIC kembali datang dari Geek Fam.

Pada Jumat, 18 September 2026, Geek menghajar ONIC 2-0. Ini menjadi kekalahan kedua ONIC dari Geek hanya dalam rentang sekitar satu minggu setelah pertemuan pertama pada 11 September juga berakhir dengan kemenangan Geek 2-1.

Dua pertemuan.

Dua kekalahan.

Lawan yang pada awal musim kesulitan menang justru menemukan dua kemenangan ketika berhadapan dengan ONIC.

Pertanyaannya sekarang tidak lagi sekadar, “Kenapa ONIC kalah?”

Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah:

Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan ONIC?

Awalnya Tidak Ada yang Terlihat Salah

Mari kembali ke Week 1.

ONIC bertemu Alter Ego.

Bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Tetapi hasilnya justru sangat meyakinkan.

ONIC menang 2-0.

Masuk Week 2, giliran RRQ Hoshi yang menjadi korban. ONIC kembali menang 2-0.

Dua pertandingan awal, dua kemenangan bersih.

Bayangkan menjadi fans ONIC saat itu.

Kelra ada di gold lane. Kairi masih menjadi salah satu nama besar di jungle. SANZ dan Kiboy sudah mempunyai chemistry bertahun-tahun. Lutpi mendapatkan ruang lebih besar di EXP lane.

Apa yang harus ditakuti?

Ternyata jawabannya datang lebih cepat dari perkiraan.

Bigetron mengalahkan ONIC 2-1.

Team Liquid ID kemudian menang 2-1.

NAVI menghajar ONIC 2-0.

Tiba-tiba dua kemenangan awal yang terasa begitu meyakinkan mulai terlihat seperti memori lama.

ONIC tidak lagi terlihat seperti tim yang sedang tersandung sekali.

Mereka mulai terlihat seperti tim yang mempunyai masalah.

Dari 2-0 Menjadi Rentetan Kekalahan

Week 4 seharusnya menjadi kesempatan melakukan reset.

Tetapi Dewa United justru mengalahkan ONIC 2-1 pada 5 September.

Pertandingan itu cukup menggambarkan persoalan ONIC. Dalam game pertama, Dewa mampu menciptakan tekanan luar biasa dan disebut sempat memiliki keunggulan sekitar 12.000 gold pada menit ke-11.

Dua belas ribu.

Di menit sebelas.

Itu bukan sekadar kalah satu team fight.

Itu berarti pertandingan sudah bergerak sangat jauh ke arah lawan sejak fase awal.

Sehari kemudian muncul harapan.

ONIC mengalahkan EVOS 2-0.

Akhirnya.

Mungkin ini titik baliknya.

Mungkin Landak Kuning sudah menemukan formula.

Mungkin kekalahan sebelumnya cuma fase adaptasi.

Lalu datang Geek Fam.

Kekalahan dari Geek Fam yang Sulit Dianggap Biasa

Sebelum bertemu ONIC pada 11 September, Geek Fam sedang menjalani musim yang mengerikan.

Mereka belum memperoleh kemenangan setelah tujuh pertandingan.

Rekornya 0-7.

Secara sederhana, kalau ONIC ingin mencari pertandingan untuk mengembalikan kepercayaan diri, Geek seharusnya menjadi kandidat ideal.

Yang terjadi malah sebaliknya.

Geek menang 2-1.

Kemenangan tersebut menjadi kemenangan pertama mereka di MPL ID S18.

ONIC baru saja menjadi tim yang memberikan kemenangan pertama kepada penghuni dasar klasemen.

Masih bisa dianggap upset?

Bisa.

Mobile Legends adalah esports. Tim kuat bisa kalah. Draft bisa meleset. Satu Lord bisa mengubah pertandingan.

Kemudian seminggu setelahnya mereka bertemu lagi.

Kalau kekalahan pertama adalah kecelakaan, pertandingan kedua seharusnya menjadi kesempatan membuktikannya.

Hasilnya malah lebih buruk.

ONIC 0-2 Geek Fam.

Tidak ada game ketiga.

Geek mengalahkan ONIC dua kali dalam dua pertemuan musim ini.

Pada titik ini, menyebut semuanya sekadar upset mulai sulit.

ONIC ID Gagal Perform Bukan karena Satu Kekalahan

Ada perbedaan besar antara tim kuat yang kalah dan tim kuat yang sedang bermasalah.

Tim kuat yang kalah biasanya masih mempunyai konsistensi.

Mereka bisa kalah dari TLID hari ini, lalu menghancurkan lawan berikutnya.

ONIC S18 justru mempunyai pola yang berbeda.

Setelah kemenangan atas RRQ pada 22 Agustus, ONIC kalah dari Bigetron.

Lalu kalah dari TLID.

Kemudian kalah dari NAVI.

Lalu Dewa.

Mereka bangkit sebentar dengan mengalahkan EVOS.

Setelah itu kalah dari Geek.

Kalah 0-2 dari Alter Ego.

Kemudian kembali kalah 0-2 dari Geek.

Kalau dihitung dari pertandingan melawan Bigetron sampai pertandingan Geek terbaru, ONIC hanya memenangkan satu dari delapan pertandingan.

Satu.

Dan kemenangan tersebut datang atas EVOS.

Inilah mengapa pembicaraan mengenai ONIC ID gagal perform MPL ID S18 bukan sekadar overreaction setelah satu pertandingan.

Datanya memang buruk.

Kairi Bukan Superman

Ketika ONIC kesulitan, mata biasanya langsung mengarah ke Kairi.

Itu konsekuensi menjadi superstar.

Selama bertahun-tahun, Kairi mempunyai reputasi sebagai jungler yang bisa menghasilkan sesuatu dari situasi yang kelihatannya tidak mungkin.

Retri Lord.

Invade.

Pick-off.

Outplay mekanik.

Masalahnya, jungler tidak bermain sendirian.

Seorang jungler bisa terlihat sangat dominan ketika tim mempunyai kontrol map. Mid dan roam mendapatkan prioritas, jungle lawan bisa dimasuki, objektif lebih mudah dikontrol, dan pergerakan lawan dapat dibaca.

Ketika sistem tersebut tidak bekerja, jungler yang sama bisa terlihat biasa saja.

Dan beberapa kekalahan ONIC menunjukkan bahwa masalah mereka lebih luas daripada sekadar performa individual Kairi.

Lawan mulai mampu memberikan tekanan sejak early game. Analisis terhadap pertandingan ONIC melawan Dewa dan Geek juga menyoroti bagaimana ONIC kesulitan ketika lawan lebih dahulu mendapatkan kontrol serta memberikan tekanan ke area jungle.

Kairi bisa melakukan retri.

Tetapi Kairi tidak bisa sendirian menciptakan vision, membersihkan tiga lane, membuka map, zoning lawan, sekaligus mengambil Turtle.

Mobile Legends tetap permainan lima orang.

Hilangnya SANZ Terasa Lebih Besar dari yang Dibayangkan

Ada faktor lain yang tidak bisa diabaikan dalam performa terbaru ONIC.

SANZ absen.

Pada Week 5, ONIC mencoba SSAMUEL sebagai mid laner. Ini menarik karena posisi utama SSAMUEL yang terdaftar di roster resmi sebenarnya adalah roam.

Memasuki pertandingan melawan Geek pada 18 September, SANZ kembali tidak dimainkan. Laporan sebelum pertandingan menyebut SANZ sebelumnya absen sepanjang Week 5 karena kondisi kesehatan, sementara ONIC juga mempunyai Killuaa yang terdaftar sebagai mid laner.

Di sinilah kita harus adil.

Kalau membicarakan ONIC gagal perform, absennya SANZ merupakan konteks penting.

SANZ bukan pemain yang baru bergabung kemarin sore.

Chemistry SANZ, Kairi, dan Kiboy terbentuk melalui pertandingan yang sangat banyak. Rotasi mid-jungle-roam adalah salah satu mesin yang menggerakkan permainan Mobile Legends modern.

Ganti salah satu komponennya dan timing bisa berubah.

Setengah detik terlambat membuka bush bisa menentukan hidup-mati jungler.

Satu wave yang tidak mendapatkan prioritas bisa membuat Turtle lepas.

Satu komunikasi yang tidak sinkron bisa mengubah engage menjadi wipeout.

Jadi persoalannya bukan SSAMUEL atau Killuaa “jelek”.

Persoalannya adalah menggantikan bagian penting dari sistem tim membutuhkan adaptasi.

Dan ONIC sedang melakukan adaptasi ketika posisi mereka di klasemen tidak memberikan banyak ruang untuk melakukan eksperimen.

Tetapi Menyalahkan Absennya SANZ Juga Terlalu Mudah

Di sisi lain, ada satu masalah.

Performa ONIC sudah tidak stabil sebelum SANZ absen.

Mereka kalah dari Bigetron.

Kalah dari TLID.

Kalah 0-2 dari NAVI.

Kalah dari Dewa.

Semua itu sudah terjadi sebelum kekalahan beruntun terbaru.

Artinya, SANZ memang bisa menjadi faktor penting dalam penurunan performa terbaru, tetapi ia bukan penjelasan untuk seluruh masalah ONIC S18.

Ada sesuatu yang lebih fundamental.

ONIC sedang kehilangan konsistensi.

Apakah Lawan Sudah Mulai Membaca ONIC?

Tim dominan selalu menghadapi satu masalah yang jarang dibicarakan.

Semakin lama Anda menang, semakin banyak orang mempelajari Anda.

Tim lain menonton replay.

Coach membedah draft.

Analis mencari pola rotasi.

Mereka mencatat hero comfort.

Mereka mencari timing invade.

Mereka mempelajari kapan jungler biasanya membuka Turtle dan bagaimana roamer memberikan vision.

ONIC selama bertahun-tahun menjadi benchmark.

Konsekuensinya?

Semua orang belajar dari mereka.

Sementara itu, lawan tidak diam.

TLID sekarang memimpin klasemen resmi dengan rekor 8-1. Alter Ego dan NAVI sama-sama mempunyai tujuh kemenangan dan dua kekalahan. Bigetron berada di posisi empat dengan 5-3.

Jadi cerita MPL ID S18 bukan hanya ONIC melemah.

Kompetitornya juga kuat.

Dan ketika jarak kualitas semakin tipis, keunggulan kecil yang dulu cukup untuk memenangkan pertandingan tidak lagi cukup.

Draft Bukan Satu-Satunya Kambing Hitam

Fans esports mempunyai satu ritual ketika tim favorit kalah.

Salahkan draft.

Hero ini kenapa dilepas?

Kenapa pick itu?

Kenapa tidak ban hero tersebut?

Memang, draft sangat penting.

Tetapi analisis terhadap pertandingan ONIC musim ini menunjukkan mereka sebenarnya telah mencoba komposisi berbeda. Saat melawan Dewa misalnya, ONIC menggunakan variasi komposisi pada tiga game, tetapi perubahan tersebut tidak otomatis menghasilkan kemenangan.

Ini menunjukkan persoalannya mungkin berada setelah layar draft selesai.

Eksekusi.

Anda bisa mendapatkan hero bagus, tetapi kalau terlambat melakukan setup Lord, hasilnya tetap buruk.

Anda bisa mendapatkan jungler comfort, tetapi kalau jungle terus mendapatkan tekanan tanpa bantuan, comfort pick kehilangan nilainya.

Anda bisa mempunyai gold laner mekanik seperti Kelra, tetapi kalau pertandingan sudah terlalu berat sebelum item penting selesai, ruang untuk carry menjadi semakin sempit.

Draft menentukan alat yang dibawa ke perang.

Eksekusi menentukan apakah alat tersebut benar-benar digunakan dengan benar.

Kelra Datang dengan Ekspektasi yang Sangat Besar

Nama Kelra sendiri membuat situasi ONIC semakin menarik.

Ketika sebuah tim mempunyai gold laner dengan reputasi sebesar Kelra, ekspektasi otomatis naik.

Secara teori, kombinasi Kairi dan Kelra terdengar mengerikan.

Anda mempunyai ancaman dari jungle sekaligus gold lane.

Lawan tidak bisa sekadar menghabiskan seluruh resource untuk mematikan Kairi karena ada Kelra yang bisa mendapatkan ruang.

Ditambah SANZ dan Kiboy, roster tersebut di atas kertas mempunyai cukup banyak win condition.

Tetapi esports tidak dimainkan di atas kertas.

Roster penuh superstar tetap membutuhkan struktur.

Siapa yang menerima resource?

Siapa yang mengambil risiko?

Kapan tim bermain untuk gold lane?

Kapan jungle menjadi pusat permainan?

Siapa yang membuat keputusan ketika game memasuki situasi chaotic?

Semakin banyak pemain hebat dalam satu tim, semakin penting sistem yang menyatukan mereka.

Dan sekarang ONIC belum menunjukkan sistem itu secara konsisten.

CW Juga Menghadapi Ujian yang Berbeda

Season 18 juga menempatkan CW dalam posisi menarik.

Nama yang dahulu sangat identik dengan gold lane ONIC sekarang tercantum sebagai coach dalam roster resmi MPL.

Menjadi pemain dan menjadi coach jelas merupakan dua pekerjaan berbeda.

Sebagai pemain, masalah Anda berada di dalam game.

Sebagai coach, masalahnya jauh lebih luas.

Anda harus membaca meta, menyiapkan draft, memahami kondisi pemain, menentukan line-up, mempersiapkan matchup, sampai mencari jawaban ketika strategi yang dipersiapkan ternyata tidak berjalan.

Ketika ONIC menang, perubahan ini bisa terlihat genius.

Ketika ONIC berada di posisi keenam, semua keputusan otomatis mendapat sorotan lebih besar.

Itu bukan berarti CW menjadi penyebab buruknya performa ONIC.

Data yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan hal tersebut.

Tetapi Season 18 jelas menjadi salah satu ujian berat bagi struktur kepelatihan ONIC.

Terutama karena sekarang waktu mulai menjadi musuh.

Posisi Keenam Itu Sangat Berbahaya

Mari kembali ke klasemen.

ONIC berada di posisi keenam dengan rekor 3-7.

Dewa berada tepat di bawah mereka dengan rekor 3-6.

Artinya ONIC bahkan sudah memainkan satu pertandingan lebih banyak daripada Dewa tetapi mempunyai jumlah kemenangan yang sama.

Ini bukan lagi situasi, “Santai, regular season masih panjang.”

Masih ada pertandingan.

Masih ada kesempatan comeback.

Tetapi margin kesalahannya semakin tipis.

Satu kekalahan bisa membuat posisi playoff semakin rumit.

Dan tekanan psikologis mulai berbeda.

Ketika berada di papan atas, tim bisa mencoba strategi baru.

Ketika berada dekat batas playoff, setiap eksperimen mempunyai harga.

Satu draft gagal bukan sekadar kehilangan satu match.

Itu bisa menjadi perbedaan antara melanjutkan perjalanan atau menonton playoff dari rumah.

Pertandingan Bigetron Bisa Menjadi Titik Penting

ONIC belum selesai pada Week 6.

Situs resmi MPL menjadwalkan mereka menghadapi Bigetron pada Minggu, 20 September 2026 pukul 17.00 WIB.

Dan matchup ini menarik.

Pertemuan pertama kedua tim dimenangkan Bigetron 2-1.

Jadi ONIC datang bukan hanya dengan kebutuhan memenangkan pertandingan.

Mereka juga membawa cerita revenge.

Kalau ONIC menang, setidaknya ada bukti bahwa mereka masih mampu menemukan jawaban terhadap tim papan atas.

Kalau kembali kalah, rekor mereka berubah menjadi 3-8.

Pada titik tersebut, setiap pertandingan berikutnya akan terasa seperti final kecil.

Apakah Era Dominasi ONIC Sudah Berakhir?

Pertanyaan ini menggoda.

Jawaban cepatnya mungkin iya.

ONIC sekarang peringkat enam. Kalah dua kali dari Geek. Kalah dari Dewa. Kalah dari NAVI. Kalah dari TLID. Kalah dari Bigetron. Kalah dari Alter Ego.

Tetapi sejarah esports mengajarkan satu hal.

Tim besar tidak bisa dikubur hanya berdasarkan setengah regular season.

ONIC masih mempunyai pemain dengan pengalaman tinggi.

Kairi tidak tiba-tiba lupa bermain jungle.

Kiboy tidak kehilangan seluruh kemampuan membaca map.

Kelra tetap merupakan gold laner dengan pengalaman kompetitif tinggi.

SANZ masih terdaftar dalam roster.

Dan sistem sebuah tim bisa berubah sangat cepat ketika satu atau dua masalah berhasil ditemukan.

Tetapi reputasi juga tidak boleh digunakan untuk menutupi kenyataan.

Kalau kita menilai MPL ID S18 berdasarkan performa yang benar-benar terjadi, bukan nama besar masa lalu, ONIC memang sedang tampil buruk.

Rekor 3-7 tidak bisa dipoles.

Yang Hilang dari ONIC Bukan Sekadar Win

Ada sesuatu yang lebih terasa daripada jumlah kemenangan.

Aura.

ONIC dahulu masuk pertandingan dengan tekanan psikologis terhadap lawan.

Tim yang menghadapi ONIC tahu satu kesalahan kecil bisa dihukum.

Turtle hilang bisa berubah menjadi jungle hilang.

Jungle hilang bisa berubah menjadi turret.

Turret hilang membuka Lord.

Tiba-tiba game selesai.

Sekarang lawan terlihat jauh lebih berani.

Dewa menekan mereka.

Geek menyerang jungle mereka.

Tim-tim papan atas tidak terlihat takut mengambil fight.

Dan mungkin inilah tantangan terbesar ONIC.

Bukan sekadar memenangkan pertandingan berikutnya.

Mereka harus membuat lawan takut lagi.

ONIC Belum Tamat, tetapi Alarmnya Sudah Sangat Keras

MPL ID S18 masih berjalan.

Karena itu terlalu dini mengatakan ONIC sudah gagal total musim ini.

Tetapi terlalu naif juga kalau mengatakan semuanya baik-baik saja.

Data sampai 19 September menunjukkan ONIC berada di posisi keenam dengan 3 kemenangan dan 7 kekalahan, sementara TLID sudah mengumpulkan delapan kemenangan dan Alter Ego serta NAVI masing-masing tujuh.

ONIC bahkan sudah kalah dua kali dari Geek Fam.

Tim yang sebelumnya menjalani tujuh pertandingan tanpa kemenangan justru mendapatkan dua kemenangan dari Landak Kuning dalam dua pertemuan mereka.

Absennya SANZ memberikan konteks untuk beberapa pertandingan terbaru.

Tetapi rentetan kekalahan ONIC sudah dimulai sebelum SANZ absen.

Draft bisa diperdebatkan.

Line-up bisa diubah.

Coach bisa mencoba formula baru.

Tetapi pada akhirnya Land of Dawn tidak membaca sejarah.

Game tidak memberikan tambahan gold karena sebuah tim pernah menjadi juara.

Lord tidak otomatis menjadi milik Kairi karena reputasinya.

Dan klasemen tidak memberikan bonus match point karena logo ONIC pernah mendominasi Indonesia.

Season 18 memaksa ONIC menghadapi sesuatu yang sudah lama tidak terasa sedekat ini:

rasa takut gagal ke playoff.

Mungkin justru tekanan tersebut yang mereka butuhkan.

Karena sekarang tidak ada lagi ruang untuk hidup dari reputasi.

Kalau Landak Kuning ingin membuktikan era mereka belum selesai, jawabannya bukan berada dalam trofi lama, nama besar pemain, atau komentar fans.

Jawabannya harus muncul di pertandingan berikutnya.

Dan Bigetron sudah menunggu.

Referensi

MPL Indonesia, “MPL Indonesia Season 18 — Standings”, diakses 19 September 2026.
https://id-mpl.com/en

MPL Indonesia, “ONIC — Roster Season 18”, diakses 19 September 2026.
https://id-mpl.com/id/team/onic

MPL Indonesia, “MPL ID Season 18 Week 6 Schedule”, September 2026.
https://id-mpl.com/s18/ticket

MLBBHub, “MPL Indonesia Season 18 Schedule & Results”, data hingga 18 September 2026.
https://mlbbhub.com/mpl/id/schedule

detikInet, “Hasil dan Klasemen MPL ID S18 Week 5: RRQ dan ONIC Kalah Lagi”, 14 September 2026.
https://inet.detik.com/esport/d-8661756/hasil-dan-klasemen-mpl-id-s18-week-5-rrq-dan-onic-kalah-lagi

RevivalTV, “ONIC Kalah dari Geek Fam! Baloyskie Takluk dari Line Up Baru Sang Mantan”, 14 September 2026.
https://revivaltv.id/2026/09/14/onic-kalah-dari-geek-fam-baloyskie-takluk-dari-line-up-baru-sang-mantan/

Popline, “ONIC Jeblok di MPL ID S18, Apa Masalahnya?”, 14 September 2026.
https://www.popline.id/esports/amp/753025143/onic-jeblok-di-mpl-id-s18-apa-masalahnya

GosuGamers, “Geek Fam ID vs ONIC — MPL Indonesia Season 18”, 18 September 2026.
https://www.gosugamers.net/mobile-legends/tournaments/63111-mpl-indonesia-season-18/matches/658884-geek-fam-id-vs-onic

Uzone, “Hasil MPL ID S18 Week 4: Bigetron Kalah, ONIC Menang dari EVOS”, September 2026.
https://games.uzone.id/hasil-mpl-id-s18-week-4-bigetron-kalah-onic-menang-dari-evos

Trending